Rabu, 19 April 2017

Negeri Retorika

Berada dalam lingkaran rasional membuat saya buta atas lingkaran yang lebih besar yang ada di Jakarta. Saya dan 33%* teman-teman lainnya yang memilih nomor 2 memang hanyalah sebagian kecil dari 10 juta penduduk Jakarta. Sebagian besar masih termakan oleh retorika** dalam politik dan memilih berdasarkan agama. Bukti kerja dikalahkan retorika. Data dikalahkan cerita. Empat ratus titik rawan banjir yang tidak banjir lagi dikalahkan Bu Nurhayati, sang tukang nasi uduk. 



Beberapa hari sebelum pemilihan, seorang teman saya menanyakan tentang apa yang salah dengan pasangan Anies-Sandi dan mengapa pendukung Ahok seakan-akan mengambing-hitamkan pasangan nomor 3. Saya bingung dengan pertanyaannya, bukankah begitu jelas bobroknya nomor 3 seperti apa? Memanfaatkan isu agama lebih dari yang pernah ada dalam sejarah pemilihan bangsa kita, membodohi publik dengan program DP Rumah Nol Rupiah yang tidak jelas, dan menebar isu-isu pemutar-balik fakta. Semua dijalankan dengan bungkusan retorika yang sempurna. Dan bukankah Ahok justru yang menjadi kambing hitam yang sedang diadili? 

Bekerja di Balai Kota bersama dengan Pak Ahok, saya tertempa untuk peka dengan retorika politik. Setelah mengikuti Pemimpin yang selalu mengedepankan substansi dan kebenaran dibandingkan retorika, mudah sekali bagi saya untuk membedakan isi tulisan ataupun pembicaraan yang sekadar retorika berpotilik. Tanpa pengalaman di Balai Kota mungkin saya akan memilih nomor 2 hanya karena memang ingin memilih pemimpin yang seagama, seras, dan terbukti kinerjanya. Dengan pengalaman di Balai Kota, saya tahu bahwa nomor 3 tidak mampu mengerjakan apa yang nomor 2 mampu kerjakan: melawan korupsi, mengedepankan transparansi, dan mengadministrasikan keadilan sosial. Tiga hal ini tidak mungkin dilakukan oleh seseorang yang hanya mengedepankan kekuasaan. Tidak peduli kalau harus menjilat ludah sendiri atau pun menjilat pantat orang lain. Semua akan dilakukan demi kekuasaan.

Munculnya keinginan untuk bekerja di pemerintahan berawal dari rasa syukur karena saya mendapatkan kehidupan yang lebih layak dari banyak orang di negara saya. Sejak kecil kebutuhan gizi saya terpenuhi dengan sempurna dan saya bisa mengemban studi di sekolah maupun universitas terbaik. Saya sadar memang hanyalah sebagian kecil yang menikmati keuntungan hidup seperti ini. Dan hanya sebagian kecil lagi orang yang mau mengabdikan keuntungan hidupnya bagi bangsa dan negara.

Pemikiran saya bahwa negara ini membutuhkan lebih banyak orang-orang dengan keuntungan hidup untuk mengabdi mungkin salah. Sebetulnya banyak dari mereka yang mau mengabdi, hanya saja mereka sedang menunggu hingga bangsa ini siap menerimanya. Nyatanya seorang Ahok yang sudah merelakan harta, keluarga, dan harkatnya pun belum bisa diterima sebagian besar masyarakat.

Siapa yang salah ketika Ahok belum berhasil mengubah arah demokrasi negara ini? Banyak yang salah. Tetapi jangan lupakan kehadiran salah seorang yang sadar akan kehebatan lawannya ini hingga jualan agama dan membutakan negara ini dalam retorika politik demi mendapatkan kekuasaan. Buat saya, dia ikut salah. Langkah demokrasi negara ini yang sudah terangkat ke depan, kembali dipijakkan di atas titik awal.

Tidak semua paham bahwa mereka masih dibutakan oleh retorika politik. Tenang, ada Pak Ahok yang sudah mengabdikan dirinya untuk memberikan pembelajaran politik bagi bangsa ini. Kalau saya hanya bisa ikutan menunggu hingga bangsa ini siap, saya tahu Beliau tidak akan berhenti hingga bangsa ini siap.

Sekali lagi kaum teknokrat masih harus menunggu gilirannya. Negara ini masih dibutakan retorika politik.

*33% = 42% dari 78% penduduk DKI yang berpartisipasi dalam pilkada 2017 putaran kedua  
**retorika 1) keterampilan berbahasa secara efektif; 2) studi tentang pemakaian bahasa secara efektif dalam karang-mengarang; 3) seni berpidato yang muluk-muluk dan bombastis (sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Minggu, 01 Januari 2017

Suara dari Toba

Kali pertama menginjakkan kaki di Tanah Batak setelah tujuh tahun direncanakan akhirnya terwujud. Ide jalan-jalan ke Medan berawal dari obrolan bersama salah seorang teman kami yang asli Medan saat mengantre untuk masuk ke Magnum Cafe yang baru saja soft-opening. Ini masa-masa ketika kafe tersebut pertama kali dibuka. Sekian tahun berselang, teman kami yang asli Medan bahkan sudah menetap di Surabaya, tetapi kami tetap memutuskan untuk berangkat tahun ini. Kalau tidak, penundaannya akan lebih lama lagi. Kami sadar bahwa salah satu natur manusia adalah menunda. Dan sering kali, kita menunda atas apa yang sudah kita tunda sebelumnya, dan begitu seterusnya.

Tiba di Kualanamu (12/2), kami segera meneruskan perjalanan ke Parapat untuk menyeberang dengan kapal feri ke kabupaten TukTuk di Pulau Samosir. Ya, kami bermalam di Samosir. Perjalanannya cukup melelahkan. Hampir 5 jam jalan darat dan 1 jam di kapal feri. Di tengah perjalanan, kami menyempatkan diri untuk mencicipi roti srikaya Ganda yang legendaris. Saya sendiri baru pertama kali dengar. Tetapi ternyata hampir semua turis akan mengunjungi toko roti di Pematang Siantar tersebut. Setelah dimakan, ternyata tidak selegendaris kedengarannya.


Setelah itu, kami segera ke Parapat untuk mengejar kapal feri kami sebelum hari gelap. Di kapal ini kami bertemu dengan tiga pria asal Spanyol yang bekerja di Singapura. Berawal dari permintaan mereka untuk diambilkan gambar, berlanjut dengan diskusi-diskusi santai seputar Indonesia. 

Tidak terasa kami sudah sampai di seberang. Vila kami merupakan pemberhentian pertama. Salah seorang staf sudah menunggu dengan gerobak tiga roda yang biasa mengangkut semen untuk digunakan sebagai pengangkut koper-koper kami. Menarik.


Setelah tiba di Vila kami disambut oleh pemiliknya, Ibu M dan Mr. BB. Setelah mengetahui kami cakap berbahasa Inggris, Bu M memberikan kesempatan Mr. BB, pria kelahiran Belanda yang sudah lama pensiun dari pekerjaannya di Afrika, untuk menjelaskan fasilitas di vila miliknya.


Selesai menjelaskan, Mr. BB menanyakan rencana perjalanan kami selama di TukTuk. Kami menjelaskan bahwa kami tidak memiliki rencana apa-apa. Tetapi kami tertarik untuk mengelilingi area TukTuk, menikmati pemandangan, dan melihat kebudayaan masyarakat sekitar. Lima menit kemudian, satu becak motor dan dua ojek motor disiapkan secara gratis untuk membawa kami berempat mengitari area TukTuk (entah sebesar apa TukTuk, di tengah perjalanan kami bertemu kembali dengan tiga pria Spanyol tadi sedang berjalan kaki) dan mengunjungi Huta Siallagan yang merupakan salah satu area bersejarah di wilayah TukTuk. Konon, dulunya di tempat tersebut Raja yang memerintah mengurung tawanannya dan melakukan eksekusi. 
 





Setiba di sana, kami dipandu oleh tour guide lokal untuk dijelaskan proses eksekusi tawanan. Prosesnya panjang, dari sang tawanan diberikan waktu untuk didoakan hingga ditelanjangi, dipastikan bebas dari jimat, dipukul dengan tongkat, disayat, dipenggal, dikeluarkan isi perutnya, hingga disajikan darahnya bagi tentara kerajaan. Tragis dan menyeramkan, memang. Lalu kapan ritual ini berakhir? Sang tour guide menjelaskan bahwa kedatangan Pendeta asal Denmark, Ludwig Ingwer Nommensen, yang perlahan-lahan mengubah kultur masyarakat keturunan Batak. Saya kagum dengan keberanian Nommensen karena bisa saja Raja yang tidak suka dengannya mengeluarkan perintah untuk menjatuhkan hukuman eksekusi yang tragis tersebut atas dirinya. Setelah selesai menjelaskan, kami berbincang sebentar dan ia menanyakan asal kami. Lalu kami menjelaskan bahwa kami dari Jakarta. "Oh, pilih nomor dua dong ya?" Sejenak saya mengira maksudnya saat pilpres 2014 kemarin, saya memilih nomor 2. Melihat saya terdiam, ia menambahi, "Pilih Ahok, dong?" Sebagai orang yang bekerja untuk Ahok, saya hanya mampu tertawa saja. 




Hari belum gelap dan kami belum puas dengan hari pertama kami. Saya mencari Bu M dan mengutarakan keinginan kami untuk menikmati senja dengan banana boat. Sepuluh menit kemudian, banana boat kami sudah stand by di dek belakang vila kami. Sambil menunggu pengisian bensin untuk kapal yang menariknya, kami berbincang-bincang dengan beberapa petugas vila. Mereka menanyakan asal daerah kami di Jakarta yang membuat saya bingung. Saya bertanya, "Ibu pernah ke Jakarta?" "Belum." Saya pun akhirnya menjawab, "Oh. Kami dari Jakarta bagian Utara, Bu." Sang Ibu sembari menyirami tanaman pot sekitar vila balik bertanya, "Pilih nomor 2 dong ya?" Saya menanyakan alasan mengapa demikian. Lalu petugas lain menjawab, "Ya, yang sudah kelihatannya kerjanya gitu, Bang."

Danau Toba merupakan tempat impian saya karena mampu memberikan suasana pinggir pantai sekaligus suasana pegunungan. Lebih dari itu, entah bagaimana ceritanya saya bisa berangkat ke Toba, tempat di mana Ahok begitu dicintai atau setidaknya didukung, pada hari yang sama dilakukannya demonstrasi atas Ahok di tempat di mana Ahok telah berhasil menunjukkan kinerja terbaiknya. Mungkin memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa untuk saya menunggu tujuh tahun sebelum akhirnya rencana liburan ke Medan terlaksana. Atas momen liburan ini, saya bisa menemukan motivasi saya kembali di tengah peliknya pekerjaan. Saya yakin apabila masyarakat Toba yang dari jauh saja bisa melihat kinerja Ahok, suatu saat masyarakat Jakarta juga bisa dibukakan matanya dan ingatannya atas perubahan yang terjadi di Jakarta berkat kepemimpinan Ahok. 







Sabtu, 31 Desember 2016

Ekspektasi Jauh dari Realitas

God, grant me the serenity to accept the things I cannot change, courage to change the things I can, and wisdom to know the difference. -- Reinhold Niebuhr 


Tahun 2016 menjadi tahun pertama saya secara resmi menjalani hidup dengan menyandang gelar sarjana dari Universitas Negeri nomor 1 di dunia (menurut U.S. News) – University of California, Berkeley. Satu kata yang bisa menggambarkan kehidupan saya setahun ini: frustrasi.Sulit bagi saya menerima kenyataan bahwa banyak hal, bahkan terlalu banyak hal, yang salah dan tak dapat diubah. Akibatnya, sulit bagi saya untuk menunjukkan rasa hormat terhadap orang-orang yang dengan mudahnya berbuat salah dan tidak belajar dari kesalahannya. Alih-alih menjadi seorang pemimpin yang baik, saya pun menjadi seorang yang dingin, arogan, dan keras. Alhasil, saya frustrasi atas hidup ini, atas manusia, dan atas dunia.

Dua minggu setelah melemparkan toga, tidak menunggu lama, saya segera kembali ke Jakarta dan mulai bekerja di Balai Kota Jakarta. Yang lebih banyak digambarkan oleh supir Uber dengan: “Oh… Kantornya Pak Ahok ya, Pak.”

Bekerja bersama dengan Pak Gubernur Ahok di Balai Kota membuat saya terus terpacu untuk mewujudkan perubahan atas kota Jakarta agar lebih baik. Ini menjadi tekad kami semua yang bekerja di sana. Semangat perubahan yang kami bawa, sayangnya, seringkali membuat kami hidup dalam sebuah lingkaran idealisme yang menyatukan kami semua namun melupakan realitas yang sesungguhnya. Ada sebuah harapan ketika kami bertemu dengan tujuh-belas orang lainnya yang rela meninggalkan kepentingan dan kebutuhannya untuk membangun Jakarta.

Mungkin banyak orang berpikir hal yang paling membanggakan atas pekerjaan kami di Balai Kota adalah bertemu dengan Sang Gubernur setiap hari. Awalnya, saya pun sempat berpikir demikian. Sayangnya bukan itu kebanggaan terbesar saya. Setelah satu tahun bekerja, saya merasakan kebanggaan luar biasa ketika berhasil membuat kemajuan untuk proyek kartu multifungsi Jakarta One yang nantinya dapat menyaingi kartu Nets milik Singapura ataupun ketika bertemu dengan banyak ibu yang dengan senyuman lebar membawa kantong berisi daging seharga Rp 35.000,00 saat melakukan monitoring penjualan daging subsidi yang sukses terjual 108 ton dalam waktu 1 bulan. Singkatnya, kami bangga ketika kami berhasil membawa perubahan untuk Jakarta. Akan mudah untuk kecewa bila seorang sosok yang dibanggakan karena manusia tidak lepas dari kekurangan. 

Bekerja untuk Pak Gubernur, banyak hal yang tidak terjamin, khususnya karier kami. Tim kami dapat dengan mudah hilang begitu saja apalagi dengan proses kriminalisasi terhadap Ahok saat ini. Keselarasan tujuan merupakan satu-satunya jaminan yang kami dapatkan dari Pak Gubernur. Kami tak merasakan sebegitu berharganya jaminan ini hingga kami  bekerja membangun Jakarta bersama dengan Gubernur lain. Kami tidak pernah sekalipun takut atas ide-ide yang Pak Gubernur dulu sampaikan karena kami tahu persis tujuannya adalah membangun Jakarta yang lebih baik dan manusiawi. Dengan tujuan ini jugalah, Pak Gubernur berani mati-matian melawan DPRD hingga menuliskan, “Pemahaman Nenek Lo!” dalam Rancangan APBD 2015. 

Kami melihat sendiri bagaimana proses siluman terjadi untuk APBD 2017. Sebelum ayam berkokok, tetiba saja APBD 2017 sudah disahkan antara eksekutif dan legislatif dengan susupan anggaran, seperti alat kebersihan untuk DPRD, pembangunan kolam ikan senilai 500 juta, dan masih banyak lagi. Saya yang menangani Badan Usaha Milik Daerah akhirnya menyaksikan sendiri pula bagaimana BUMD-BUMD dipaksa untuk membiayai panggung dan artis untuk hiburan rakyat akhir tahun. Padahal BUMD-BUMD ini masih banyak yang terikat utang, mengalami kerugian, ataupun kurang pendanaan untuk proyek-proyek penugasannya. Salah satu BUMD diketahui diminta untuk membiayai panggung berukuran 10x12 meter lengkap dengan sound system, lighting, MC, dan artis dengan total biaya sebesar 156 juta rupiah.
  



Saya frustrasi berada pada kondisi tak berdaya. APBD yang acak kadut hingga BUMD yang diperas, sekarang semua di luar kendali kami. Saya frustrasi bertemu dengan banyak orang yang menduduki posisi penting namun tingkah laku dan pola pikirnya jauh di bawah standar. Entah standar saya sebagai lulusan Berkeley yang terlalu tinggi atau negara ini yang memang sudah terbiasa dengan miskinnya standardisasi. Saya frustrasi terhadap Kepala Biro yang hanya tahunya membuat regulasi tanpa tahu substansi dan tujuannya. Saya bahkan frustrasi hanya dengan pengemudi yang berhenti saat lampu berwarna hijau, yang berkendara melawan arah, apalagi berkendara di tengah garis lajur. 

Di penghujung tahun 2016 ini, saya teringat kembali sambutan Menteri Tenaga Kerja Amerika Serikat ke-22, Robert Reich, pada acara wisuda setahun lalu. Ada tiga hal yang Beliau sampaikan waktu itu.  Pertama, selalu tunjukkan rasa hormat terhadap orang lain yang tidak mempunyai status atau latar belakang pendidikan seperti yang saya miliki. Kedua, kepemimpinan adalah seni dan latihan untuk membuat orang-orang di sekitar saya memiliki fokus terhadap permasalahan yang sebelumnya dianggap tidak penting. Ketiga, sadari perbedaan antara berdeterminasi dengan bunuh diri. Artinya, perubahan terkadang tidaklah mudah. Kita harus bisa menerima apa yang belum bisa diubah. Setidaknya berusahalah menerimanya untuk saat ini sambil terus mengupayakan perubahan terhadap hal-hal yang tidak bisa kita terima tersebut.


Mudah-mudahan cukup tahun 2016 saja yang diwarnai dengan rasa frustrasi dan kekerasan. Di negara berkembang seperti Indonesia, ekspektasi dan realitas memang jarang sekali bertemu. Keterbatasan sumber daya manusia akibat korupsi berkepanjangan seringkali mengikhlaskan setiap kesalahan ataupun ketidak-berhasilan dalam mencapai ekspektasi. Masyarakat terlatih untuk berekspektasi serendah mungkin sebut saja ketika  mereka menerima pelayanan di restoran, mengurus surat di kelurahan, berobat ke rumah sakit, hingga ketika mereka harus membangun bahtera rumah tangga. Kuncinya, saya perlu bersabar dan menerima apa yang harus saya terima saat ini sambil perlahan-lahan mengubah apa yang bisa saya ubah.

Minggu, 20 November 2016

Obrolan Meja Makan

Kurang dari 1000 jam saya berinteraksi dengan Ahok tetapi saya sudah merasakan kedekatan berkat sikapnya yang begitu terbuka dengan siapa saja. Pembicaraan meja makan membuat kami para pekerjanya merasakan kedekatan dengan Beliau. Saya yang awalnya hanya mendengarkan cerita dan lawakannya sampai bosan, akhirnya mampu pula bercerita dan melontarkan lawakan yang membuat Beliau tertawa. Seringkali saya menyepelekan momen meja makan ini, bahkan berusaha menghindari karena tidak sanggup menemaninya ngobrol hingga 2 jam. Sekarang saya sadar betapa berharganya momen meja makan ini. Bukan karena Beliau adalah seorang pejabat sehingga banyak orang yang rela mengeluarkan kocek untuk mendapatkan momen tersebut atau karena saya punya privilege untuk menentukan makanannya, tetapi karena banyaknya pemikiran dan rema Beliau yang disingkapkan kepada kami lewat momen meja makan.

Tidak pernah terbayangkan seorang Ahok bisa menjadi tersangka. Mungkin banyak orang berpikir demikian. Saya pun begitu, awalnya. Namun setelah saya mengingat kembali momen meja makan saya bersama beliau, saya sadar bahwa Ahok menjadi tersangka bukanlah sesuatu yang tidak terbayangkan, melainkan sesuatu yang tidak ingin saya bayangkan. Buat Ahok, penetapan dirinya menjadi tersangka bukanlah hal baru yang belum terbayangkan olehnya. Bukan hanya sekali Beliau bercerita bagaimana ia membayangkan dirinya diadili dan berakhir di penjara. Beliau bahkan berkali-kali membuat saya hanya bisa menunduk dan meletakkan kembali sendok saya karena tertegun mendengarkan perkataan Beliau yang siap mati. Begitu santainya Beliau membicarakan kematian. Bukan karena Beliau merasa hidupnya di dunia ini tidak ada artinya, tetapi karena Beliau sadar bahwa ia sudah berusaha semaksimal mungkin di setiap titik hidupnya untuk memberikan makna bagi orang banyak. Hal ini membuatnya siap menerima ajalnya. 

Meskipun saya tahu sesiap apapun seseorang menerima ajalnya, kegentaran pasti tetap ada saat ajal betul menghampiri. Bagi umat Nasrani, Yesus yang dianggap mereka sebagai Juruselamat pun di malam terakhir sebelum disalib meneteskan keringat darah dan mengajukan permohonan terakhir kepada Sang Allah agar diri-Nya tidak perlu melewati penderitaan yang sudah Ia, bukan hanya prediksi, tetapi ketahui persis. Sesiap apapun Ahok menerima ajalnya atau penetapan dirinya sebagai tersangka, kegentaran tetap ada. Beberapa minggu sebelum penetapan tersangka, raut muka Ahok berubah dan berat badan menurun. Ini bukti kegentaran Ahok, seorang yang hobi makan, yang bisa tertawa lepas bahagia saat makan setelah seharian marah-marah, dan juga sebaliknya, yang bisa marah-marah kalau makanannya tidak enak. Ucapannya, “Jangan pesan lagi!” seringkali membuat saya pusing karena memperpendek daftar restoran yang makanannya bisa dipesan. Tetap saja, saya rela pusing setiap hari dibandingkan saya harus melihat Ahok yang harus gentar setiap hari. Hati saya hancur setiap kali saya menyetir dan melihat kemajuan Jakarta, sebut saja kali yang sekarang begitu bersih ataupun jalan-jalan di sana sini yang terus diaspal. Hati saya hancur karena orang yang memacu kemajuannya ini justru sedang mejadi tersangka kasus dugaan penistaan agama setelah sebelumnya dinyatakan tidak bersalah dalam kasus reklamasi dan Sumber Waras.

Kurang dari 1000 jam saya bersama dengan Ahok dan tiba-tiba Ahok menjadi tersangka. Saya tidak tahu apa lagi yang akan terjadi. Saya tidak tahu lagi bangsa ini akan jadi apa dan maunya apa. Satu alasan kuat saya kembali ke Indonesia setelah kuliah di Amerika Serikat adalah untuk membangun negara ini. Namun setelah apa yang terjadi, muncul kembali bayangan kehidupan saya di luar Indonesia. Saya hanya bisa berdoa agar bangsa ini tidak gentar menerima kemajuan. Saat bangsa ini memilih untuk mundur, saya pun akan mundur dan pergi ke mana saya dan kemajuan yang saya tawarkan dapat diterima. 


Selasa, 01 Januari 2013

New Year, New Chapter :)

Hari ini, hari terakhir di tahun yang menurut si Maya bakal jadi tahun terakhir mereka. Nyatanya, mereka salah. Sisa-sisa Maya bahkan masih ada di tengah 7 miliar lebih manusia di Bumi. Gua salah satunya, masih hidup dan 1 jam lagi bakal hidup di tahun 2013.


Banyak orang ga berasa udah lewatin setaon ini, buat gua 2012 adalah tahun yang paling bikin gua belajar untuk bisa 'merasakan'. Saat ini gua duduk di tengah-tengah orang yang belom lama gua kenal, kami kumpul di ruang serba guna gereja dan memutuskan buat nunggu jam 12 dengan karaoke-an. Gua suka karaoke, sayangnya pilek yang gua rasain membuat gua cukup duduk diam dan merasakan setiap lagu yang mereka nyanyiin sampai kedenger lagu Ingatlah Hari Ini. Gua berhenti merasakan dan mulai menggunakan pikiran gua untuk mengingat. Ingatan gua pun terbawa ke momen saat gua bersama salah seorang sahabat mengkreasikan lagu ini untuk dinyanyikan oleh guru SMA kami di acara rekoleksi. Ingatan akan momen rekoleksi sukses membawa gua mengingat momen hidup selama setahun ini.


Diawali dengan penerimaan rapot semester 1 dan gua mendapat hasil tak terduga secara langsung. Tahun ini gua ikut ke pengambilan rapot, fakta yang jarang banget gw putuskan buat terjadi. Meskipun hasilnya ga diumumin, menang dari orang yang berkali-kali ngalahin gua buat juara satu secara diem-diem udah lebih dari cukup. 


Hari-hari selanjutnya disibukkan dengan persiapan ujian praktik, ujian sekolah, dan ujian negara. Ga ada rasanya pas ngejalanin itu semua, paling cuma berasa capek yang kemudian bisa dikuatkan dengan rasa semangat untuk menyongsong momen lepasnya dari dunia persekolahan. Padahal, kalo diingat dan dicoba untuk dirasakan kembali, setiap momen itu bener-bener ga biasa. Dari hampir nginep di sekolah buat nyiapin ujian praktik drama bahasa indonesia sampai gemeterannya tangan nulis laporan sambil ngerebus tabung reaksi saat ujian praktik kimia. Belum lagi momen-momen saat try out, dari yang diem-diem satu kelas sama-sama sedikit shock melihat guru yang tugas buat jaga kelas kita mengenakan high-waist dengan hasil yang sedikit aneh. Namun, sedikitnya shock kami atas sedikitnya keanehan itu tidak sedikit pun membuat kami mudah melupakannya. 


Momen bersejarah kami dilanjutkan dengan acara perpisahan kami selama 4 hari 3 malam, ga kemana-mana, cuma mondar-mandir di sebuah vila yang semuanya serba ungu. Agak jijik awalnya dan meragukan, tapi justru keunguannya vila itu membuat kami makin gabisa melupakannya. Dalam waktu dua bulan kami sama - sama mengurus sendiri acara ini, sama-sama capek, tapi sama-sama merasakan kepuasan yang ga pernah dirasakan di tahun-tahun sebelumnya. 


Tibalah acara wisuda, para perempuan disibukkan untuk mencari kebaya sedangkan yang pria cukup mengenakan jas yang pasti kami miliki. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, tanpa sadar mungkin itu momen terakhir kami menyanyikannya sepanjang sisa tahun 2012. Acara diakhiri dengan bersalaman dengan guru dan beberapa saling berpelukkan. Tidak ada yang tahu apakah itu akan menjadi salaman atau pelukkan terakhir kami dengannya.


Klimaks tahun 2012 berada pada momen gua harus terbang ke Seattle. Tiga jam pertama terbang ke Seattle dari Taiwan gua sibukkan dengan memutar lagu dari GalaxyTab gua yang jarang gua maksimalkan itu. Sambil dengerin lagu gua teringat bahwa apa yang terjadi di Jakarta sebentar lagi tinggal menjadi kenangan dalam hidup gua. Sedikit demi sedikit setiap kenangan tergenapi bersamaan dengan pesawat yang membawa gua semakin menjauhi benua Asia.


Tiga bulan di Seattle belum banyak yang bisa dirasakan selain pusing dengan hal-hal yang sebelumnya ga pernah gua urusin. Duit yang harus diurus sendiri, urusin cucian, sampai ngurus makanan yang sebelumnya ga kepikir bakal menjadi sebuah kesibukan ternyata ga jarang bikin stress. Ternyata itu ga cuma buat gua yang di Seattle, itu terjadi juga sama teman-teman gua di mana-mana. Kami memasuki dunia kuliah.



Selamat datang 2013. Selamat datang dunia kuliah. Selamat datang di kehidupanku.

Selasa, 04 Oktober 2011

Musim Keempat yang Menyentuh

Resensi Buku Kumpulan Cerpen

Judul buku : Empat Musim Cinta

Penulis : Adhitya Mulya, dkk.

Editor : Kinanti Atmarandy

Penerbit : Gagas Media, Jakarta

Cetakan : II, 2010

Tebal : vi + 176 halaman

Ukuran : 13 x 19 cm

Harga : Rp30.000,00

Setiap orang memiliki cinta dan setiap hubungan akan menjadi indah bila didasari cinta. Konsep tersebut pulalah yang melatarbelakangi Empat Musim Cinta. Hal tersebut ditunjukkan secara gamblang lewat judul buku yang sengaja tidak diambil dari salah satu cerpen di dalamnya dan juga sampulnya yang bernuansa pink. Buku kumpulan cerpen ini menyatukan berbagai gaya penulisan sejenis dengan keunikan khas remaja yang berbeda-beda dari delapan penulis. Kedelapan penulis ini memang sudah tak diragukan lagi kepiawaiannya dalam menulis cerita remaja sehingga penyatuan mereka akan menciptakan sebuah karya yang menyentuh, dinamis dan tentunya, ringan. Empat Musim Cinta–lah buktinya.

Empat Musim Cinta” memang bertemakan cinta, namun tidak serta-merta hanya menceritakan cinta di antara pasangan kekasih. Sesuai dengan judulnya, buku ini memang memiliki empat ‘musim’ cinta. ‘Musim’ pertama merupakan cerita cinta dalam hubungan berpacaran. Kedua, menceritakan hubungan kasih di dalam persahabatan. Ketiga, berkaitan dengan keluarga dan ‘musim’ keempat berkisah tentang dengan cinta Yang Maha Esa. Beberapa cerita juga meleburkan beberapa musim menjadi satu, misalnya cerpen berjudul Jalan Takdir yang mengisahkan hubungan antara ayah dengan putrinya dan putrinya dengan pria yang diam-diam mencintainya. Cerpen lainnya seperti Uji Setia juga menggabungkan dua ‘musim’, yakni persahabatan dan pacaran.

Cerpen mengenai hubungan cinta secara vertikal, antara Tuhan dengan manusia, hanya dapat ditemukan dalam kisah terakhir yang menggenapkan adanya 4 ‘musim’ di dalam buku ini. Judulnya, Menjemput Mempelai. Cerpen ini menceritakan Magi, seorang wanita tunasusila yang hidupnya sudah begitu hancur dan terbuang hingga pada akhirnya hanya Yesus yang mau dan mampu menerimanya.

Cerita diawali dengan penggambaran tentang Magi yang penyakitan dan tidak berdaya lalu diusir oleh ibu kost-nya. Setelah diusir, Magi pergi ke rumah sakit dengan penuh kesakitan untuk meredakan syphilis-nya yang sudah parah. Tidak segera diobati, Magi justru ditagih atas utang-utangnya. Obat yang diberikan pun hanyalah suntikan vitamin C karena ketidakmampuan Magi untuk membayar. Beranjak dari rumah sakit, Magi pun menuju sebuah gereja tua. Sesampainya di gereja, Magi yang ingin bertemu pastur hanya bisa bertemu dengan seorang koster setelah menunggu selama satu jam. Sang koster yang melihat keadaan Magi dan mengetahui Magi yang adalah pelacur, segera membuatnya jijik dan mengunci pintu gereja.

Cerita mengenai penolakan-penolakan yang Magi terima disertai dengan penggambaran penderitaan Magi secara detail dan penggunaan latar yang sangat mendukung, sukses membuat hati pembaca terenyuh. Hal tersebut dapat dibuktikan lewat penggalan paragraf yang berhasil membuat pembacanya merasakan perihnya borok yang ‘terpanggang’ berikut ini.

Matahari masih bersinar gagah tepat di atas kepala. Magi berjalan tanpa alas kaki. Aspal yang terpanggang oleh terik mentari tak lagi terasa panasnya oleh kakinya. Hanya satu yang ia rasakan, sakit borok-borok di tubuhnya. Kali ini kakinya membawanya menuju gereja.

Kisah diakhiri dengan menyerahnya Magi atas hidupnya. Di tengah keadaan dirinya yang telah kehilangan asa, Magi yang terbiasa bertemu dengan laki-laki binal bertemu kembali dengan seorang laki-laki yang sepertinya pernah ia kenal. Laki-lagi tersebut digambarkan berlaku seperti laki-laki lainnya, mendekati Magi, menciumnya lalu membuka kutangnya. Tetapi Magi merasakan perasaan yang berbeda dan penuh dengan kedamaian. Saat Magi bertanya siapa namanya, segalanya menjadi terjawab. Berikut ini penggalan akhir cerita Menjemput Mempelai.

“Siapakah namamu?” Magi bertanya.
“Mempelai,” jawabnya.
“Lihatlah. Kamu melucu.”
Magi menciumi sekujur tubuh lelaki itu. Tiba-tiba ia terhenti. Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh lelaki itu. Di lambung kiri. Di dua telapak tangan. Di dua telapak kaki.

Cerpen Menjemput Mempelai begitu menyentuh dengan akhir cerita yang tidak diduga-duga. Dari lima belas cerpen sebelumnya yang selalu menceritakan hubungan antar-sesama, tiba-tiba cerita terakhir justru berkisah tentang cinta Tuhan kepada manusia dan baru diketahui lewat kalimat terakhir cerita tersebut. Diawali dengan cerpen yang membuat tertawa dan diakhiri dengan cerpen yang membuat hati meratap. Hal ini benar-benar menimbulkan kesan mendalam terhadap “Empat Musim Cinta”.

Kisah tak terduga lainnya juga ada dalam cerpen karya Andi Fauziah Yahya yang berjudul Sepasang Kupu-Kupu. Bila pembaca Menjemput Mempelai dibuat kaget di akhir cerita, pembaca Sepasang Kupu-Kupu akan dibuat kebingungan di tengah cerita. Penggambaran tokoh yang baru mulai jelas saat di tengah, saat alur flashback dimulai, membuat pembaca kaget bahwa pasangan kekasih yang diceritakan merupakan adik-kakak kandung. Alurnya yang berbeda dari lima belas cerpen beralur maju lainnya disertai dengan ide cerita yang berani membuat cerpen ini juga menarik. Hanya saja, proses pengembalian dari masa lalu ke masa sekarang kurang dilakukan dengan mulus sehingga menimbulkan sedikit kebingungan kepada pembaca.

Cerpen Scene 40 Yang Bermasalah juga tak terduga. Bukan karena begitu menyentuh atau pun kisahnya yang berani, melainkan karena keberadaannya. Dari sebagian besar cerpen yang bercerita tentang hubungan kasih-mengasihi dalam berbagai konteks, cerpen ini justru bercerita tentang pocong yang berprofesi sebagai artis. Cerpen karya Adhitya Mulya ini mengisahkan pocong yang tidak dapat bekerja sama dengan sang sutradara hingga akhirnya tidak sengaja benar-benar membunuh lawan mainnya saat melakukan adegan pembunuhan. Cerpen ini lebih merupakan kritik terhadap dunia perfilman di Indonesia yang penuh dengan film horor, bukan tentang cinta. Meski demikian, cerpen ini begitu menghibur bahkan hingga membuat pembaca tidak kuasa menahan tawa. Lucu tak tertahankan. Keberadaannya yang mungkin tepat pun tidak perlu lagi dijadikan soal.

Selain itu, kisah-kisah dalam buku ini yang memang ditujukan untuk remaja membuat sebagian besar tokoh-tokohnya tergambarkan masih dalam rentang usia remaja (SMA hingga kuliah). Watak yang digambarkannya pun disesuaikan dengan watak remaja sebenarnya yang sering kali idealis, mengutamakan keinginannya sendiri, dan penuh dengan emosi. Alhasil, perasaan pembaca pun dapat menyatu dengan cerita. Pembaca dibuat seolah-olah masuk ke dalam cerpen-cerpen yang ada, misalnya dalam cerpen Uji Setia, Sepotong Senja, dan Pernah Jadi Aku.

Sepintas setelah menutup buku ini, kita mungkin akan terkesan berkat kisah terakhir yang begitu menyentuh. Sayangnya, bila memikirkan lebih mendalam setiap cerita dalam buku ini, beberapa cerita terbilang standar dan mudah terlupakan. Misalnya cerpen Dia, Aku, dan Kamu yang hanya menceritakan Reynata yang setia dengan suaminya di tengah banyak kenalannya yang selingkuh. Tidak lebih.

Enam belas cerita yang ditulis delapan pengarang berbeda memang membuat buku kumpulan cerpen ini sangat dinamis dan menarik. Setiap cerpen yang memiliki permasalahannya sendiri serta didukung dengan bahasanya yang ringan membuat buku ini tidak membosankan. Sayangnya, adanya beberapa kisah yang yang terlalu sederhana menimbulkan kesan ill feel dan rasa kecewa terhadap buku ini. Bagi pembaca yang mengharapkan kisah-kisah yang bisa merefleksikan hidup secara mendalam, maka buku kumpulan cerpen ini belum bisa memenuhinya. Namun, buku ini dapat menjawab kerinduan para pembaca untuk terhibur dan terhindar dari kebosanan dengan sempurna. Sangat pas untuk mengisi waktu luang yang ada. Ada break, baca “Empat Musim Cinta”!

Jumat, 12 Agustus 2011

Lima Belas

15:15

Aku diam terduduk. Ku pertahankan posisiku, tanganku kulipat untuk menahan tundukkan kepalaku di atas meja. Aku berusaha mencari keheningan yang jelas tak akan ditemukan oleh siapa pun. Setidaknya untuk saat ini.

Pagi hari.

Semangat membara. Jiwa berkobar dan terbakar oleh semangat yang tak pernah mati. Tak ada keraguan sedikit pun dalam benak atau pun hati. Lembar demi lembar sudah ku baca, ku kerjakan ulang berulang-ulang, dan ku hafal mati. Sebenarnya inilah sebab dari segalanya.

Pelajaran demi pelajaran ku lewati sambil mencuri beberapa kesempatan untuk mengingatkan diri kembali akan setiap soal yang telah aku pelajari. Untungnya, hal ini sudah biasa ku lakukan sehingga tak seorang guru pun yang menyadari apa yang ku pelajari bukanlah yang sedang ia coba terangkan untuk diriku.

Siang hari.

Jam terakhir tiba. Guru masuk, murid tidak duduk tapi berdiri. Sibuk meminta kertas ulangan. Lagu lama, lama sekali. Seketika semua siap dan sudah ber-ku. Guru membagikan soal berurutan dari yang paling terlihat siap dan percaya diri, paling tertata mejanya, dan terdiam. Aku yang pertama.

Aku memejamkan mata sejenak, menenangkan jantung yang berdenyut hingga terasa detaknya. Ku buka mataku, mulai membalik kertas soal yang diletakkan berlawanan arah. Aku membaca setiap soal perlahan sambil memancing otak memikirkan langkah pertama jawabannya. Hingga selesai membaca soal ke-9, otakku masih beku. Kalau bisa, aku ingin memanaskannya hingga encer. Selesai sudah.

Sore hari.

Waktu pengerjaan 80 menit membuat segalanya selesai pada pukul 15.15. Hingga waktu menunjukkan angka kembar, yang konon kita sedang dirindukan, tak sesoal pun merindukan untuk dijawab olehku. Semua mulai membahas jawaban setiap soal, 'memastikan' apakah jawaban mereka benar. Aku tidak suka bagian ini. Bagian di mana aku duduk diam dan semuanya sebenarnya sedang memaksakan pembenaran atas dirinya.

Aku sadar akan satu kesalahan yang mengacaukan segalanya. Aku menghafalnya sampai mati.

Aku tak dapat menghitung satu nomor pun. Nilai lima belas yang ku dapat tak' lebih dari sebuah belas kasihan.

Kamis, 14 Juli 2011

No Ordinary Story

Kapankah seseorang merasakan getaran pada mulutnya untuk berbicara? Mungkin ketika seseorang mengalami stroke. Mungkin juga ketika seseorang hendak menyatakan sesuatu yang batin tidak ingin mengatakannya. Sesuatu yang berat. Sesuatu yang kalau bisa dipendam saja. Sesuatu yang dapat melukai perasaan pasangan. Sesuatu yang menjelaskan berakhirnya suatu hubungan.


Lima hari, sepuluh jam dan lima-belas menit yang lalu aku tiba di sebuah rumah yang sudah tak asing lagi bagiku. Masuk perumahan, belok kiri di gang pertama lalu kanan di gang pertama selanjutnya dan kiri kembali di gang pertama lanjutan selanjutnya, rumah ke dua-belas di sebelah kiri itulah rumah yang kumaksud. Setelah berhasil mengumpulkan nyali, aku turun dari mobil dan mendekati pagar yang sudah sedikit ambles akibat tergoncang gempa tahun lalu. Sebelum kuadukan gembok dengan pagar untuk memberikan sinyal akan kehadiranku, oma-nya, yang pernah kubayangkan akan menjadi oma-ku juga, menghampiriku dan menanyakan maksud kehadiranku. Ia masuk ke dalam untuk memastikan ingatannya apakah keberadaan cucunya tersedia untuk menjawab maksud kehadiranku.

Tiga menit kemudian aku sudah melepas sandalku dan terduduk di sofa ruang tamunya. Dua menit kemudian ia datang sambil membawa segelas sirup untukku. Lemahnya nyali menyuruhku untuk segera meneguk nya. Kurasakan perlahan-lahan manisnya sirup itu. Andai semanis ini.

Perhatianku teralihkan - kualihkan - pada sebuah objek berukuran besar yang begitu menarik. Kumanfaatkan rasa ingin tahuku yang tinggi detik itu. Aku perlu pengalihan. Dan kami membicarakan sejenak yearbook kakak perempuannya yang begitu menakjubkan. Extraordinary Book. Demikian judulnya. Cocok untuk menjadi judul hubungan kami. Lebih tepat bila disisipi kata sad tepat di tengahnya.

"Serius ya," kumulai pembicaraan dan kurasakan getaran itu. Aku tahu kami berdua memang sudah menunggu bagian ini. Ya bagaimana tidak, apa lagi yang harus ditunggu saat seorang pria mendatangi seorang perempuan yang sudah didekatinya hampir tiga tahun selain bagian serius yang dapat menunjukkan bagaimana pendekatan ini berakhir. Kuutarakan semuanya yang sebenarnya tidak semua dari apa yang sudah kupersiapkan. Aku terus berbicara menatap Extraordinary Book sambil beberapa kali terdiam mencoba menatap matanya. Setelah aku memutuskan untuk berhenti berbicara, aku memintanya yang berbicara. Akhirnya suasana menjadi hening, ia menarik Extraordinary Book yang terus kutatapi - meski aku sudah selesai menakjubnya - dan menutupnya. Pertanda bahwa waktu kepulanganku telah ditentukan.

Segala emosi muncul menjadi satu, baik bagiku maupun baginya. Perasaan marah, geram, kecewa, sedih, bingung, kesal, tidak terima, menyakiti-tersakiti, semua menjadi satu memunculkan sebuah jenis perasaan baru yang belum pernah berhasil ternamakan.

Namun, ini memang yang harus kulakukan. Hampir sebulan aku merenungkannya dan memang ini keputusanku. Ketidak-inginan sebuah penggantungan hubungan. Keputusan dalam hidup untuk tidak pacaran dulu. Kesadaran bahwa diri masih labil. Keputusan hidup saat ini untuk memprioritaskan 'karir'. Jadi, sekarang belum waktunya. Kapan? Tak seorang pun tahu.

Hubungan kami turun derajat. Namun tetap berderajat. Kami sahabat.

Jumat, 24 September 2010

Dewan Pecinta Rakyat

Dahulu, cinta seluas dunia dan sedalam samudra
Sekarang, cinta seluas gedung 36 lantai dan sedalam sakitnya hati rakyat

Salib Dalam Hati

Ngiikkkk...terdengar bunyi rem sebuah mobil yang berhenti mendadak.
Semua orang berlarian mendekati mobil tersebut. Cahaya matahari pun tertutupi oleh ramainya orang di sekitarku.


Hari sebelumnya, temanku menyuruhku mengambil sebuah kartu yang dijajarkan di atas meja. Ia baru saja mempelajari sebuah ilmu baru yang bagiku hanyalah sebuah permainan. Aku mengambil sebuah kartu dan membukanya sebelum diminta.  Terlihat gambar sebuah hati besar berwarna merah. Untung saja bukan hitam. Aku tenang. Temanku tak bicara dan menyuruhku mengambil sebuah kartu lagi. Aku menolaknya. Aku memintanya menjelaskan apa maksud kartu ini. Ia hanya mengatakan bahwa tanda salib di tengah-tengah merahnya hati melambangkan kebahagiaan. Bagus kalau begitu. Aku mulai menyukai permainan ini.


Sekarang, aku baru mengerti. Ini bukan permainan. Kartu itu berbicara. Aku mendapatkan sebuah kebahagiaan di luar batas.